Ahli Merakit Senpi, Guru SMP Asal Malang Diringkus Polisi

Nusa Update - 23/04/2021
Ahli Merakit Senpi, Guru SMP Asal Malang Diringkus Polisi
Ahli Rakit Senpi, Guru SMP Asal Malang Diringkus Polisi - (Nusa Update)
Penulis
|
Editor

Surabaya, Nusa Update – Seorang guru asal Kabupaten Malang, Jawa Timur, diringkus polisi. Ia diamankan petugas karena ahli dalam merakit senjata api (senpi) secara ilegal.

Bahkan, saat ditangkap, tiga pucuk senpi hasil rakitan dan puluhan amunisi turut disita sebagai barang bukti.

Tersangka diketahui berinisial AR (23) warga Kecamatan Gondang Legi, Kabupaten Malang diamankan lantaran terbukti sebagai perakit senpi ilegal.

Dari tangan pelaku, Polisi berhasil mengamankan tiga pucuk senjata api rakitan jenis Revolver, Baikal, laras panjang reminten kaliber 5,56 mm.

Baca Juga :  Fat-Shaming Jadi Masalah Kesehatan Global di Era Milenial

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Gatot Repli Handoko, didampingi Wadirkrimum AKBP Nasrun Pasaribu dan Kasubdit III Jatanras AKBP Lintar Mahardhono mengatakan tersangka diketahui mulai merakit senpi sejak Februari 2021 lalu. Dalam rentang waktu tersebut, 7 pucuk senjata sudah berhasil dirakitnya.

“Tersangka melakukan kegiatan tersebut sejak Februari 2021 sampai ditangkap dan sudah dapat merakit senjata api sebanyak 7 pucuk senjata,” kata Gatot kepada wartawan, Jumat (23/4/2021).

Ia menambahkan, hasil pistol atau senjata rakitan dijual dengan harga bervariasi sesuai pesanan, harganya berkisar antara Rp 3,5 juta hingga Rp 6,5 juta.

Baca Juga :  Polri Latih Ribuan Orang Jadi Tracer Covid-19

Dalam mengerjakan senpi rakitan, tersangka selalu memakai alat-alat perbengkelan diantaranya grinda, alat bubut dan alat las, sedangkan profesi sehari-seharinya adalah guru swasta.

“Tersangka selalu mengunakan bermacam-macam peralatan bengkel.¬†Profesinya ini sehari-hari guru SMP,” terangnya.

Atas perbuatannya itu, tersangka dijerat dengan Pasal 1 UU Darurat No. 12 Tahun 1951 terkait merakit atau membuat dan atau menguasai senjata api secara illegal. Adapun ancaman hukuman maksimalnya adalah 20 tahun penjara.

“Kami kenakan UU Darurat. Ancaman hukumannya yakni maksimal 20 tahun penjara,” pungkas Gatot. (rls/kara)

Share

Tinggalkan Komentar

Close Ads X